Mengenal perdagangan basis, strategi yang banyak dipakai dana institusional
Strategi ini memanfaatkan selisih harga antara pasar spot dan kontrak berjangka, dengan risiko yang berbeda dari sekadar memegang aset.
- Perdagangan basis mengambil posisi berlawanan di pasar spot dan berjangka secara bersamaan.
- Imbal hasilnya berasal dari selisih harga, bukan dari arah pergerakan aset.
- Risiko utamanya adalah likuiditas, jaminan, dan keandalan bursa tempat posisi dibuka.
Perdagangan basis merupakan salah satu strategi yang paling sering digunakan dana institusional di pasar aset digital. Prinsipnya sederhana: membeli aset di pasar spot sekaligus menjual kontrak berjangka atas aset yang sama, lalu menahan kedua posisi hingga kontrak jatuh tempo.
Ketika harga kontrak berjangka lebih tinggi dari harga spot, selisih tersebut akan menyempit menuju nol saat mendekati jatuh tempo. Selisih yang menyempit itulah yang menjadi sumber imbal hasil. Karena kedua posisi berlawanan arah, pergerakan harga aset secara umum tidak menentukan hasil akhir strategi ini.
Sifat itu membuat strategi tersebut kerap digolongkan netral pasar. Namun netral terhadap arah harga bukan berarti bebas risiko. Risiko utamanya terletak pada pengelolaan jaminan: bila harga bergerak tajam, posisi berjangka dapat memerlukan tambahan jaminan dalam waktu singkat, dan kegagalan memenuhinya dapat memicu likuidasi paksa.
Risiko lain berkaitan dengan tempat transaksi dilakukan. Karena posisi spot dan berjangka sering berada di dua platform berbeda, kegagalan salah satu platform dapat memutus struktur lindung nilai dan mengubah posisi yang semula seimbang menjadi terbuka sepihak.
Besaran selisih harga juga berubah-ubah mengikuti kondisi pasar. Pada periode permintaan tinggi terhadap posisi beli berleverage, selisih melebar dan imbal hasil strategi ini meningkat. Pada periode sebaliknya, selisih dapat menyempit sampai tidak lagi menutupi biaya modal dan biaya transaksi.